Mandalo, 24 Mei 2026. Mahasiswa Fakultas Pertanian UNJA, berkolaborasi dengan UKM MAPALA Siginjai UNJA, berhasil membuat Jadam Microbial Solution (JMS) dan Jamur Keberuntungan Abadi (JAKABA).
Beberapa perwakilan Mahasiswa Fakultas Pertanian UNJA, dari kelas B Agroekoteknologi, Kelas R 009, R 008 dan Kelas R 004, berkolaborasi dengan MAPALA Siginjai UNJA, melakukan aktivitas pembuatan Jadam Microbial Solution (JMS) dan pembuatan Jamur Keberuntungan Abadi (JAKABA). Kegiatan pembuatan JMS dan JAKABA ini dilaksanakan tanggal 5 Mei 2025, di sekretariat MAPALA SIGINJAI Unja. Pembuatan JMS dan JAKABA ini dipandu oleh anggota senior MAPALA SIGINJAI UNJA, yang telah mempraktekkan pembuatan JMS dan JAKABA ini pada kegiatan Pro -Ide di desa Setiris Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi pada tahun 2024 yang lalu.

Foto: Dokumentasi pembuatan JMS dan Jakaba, 5 Mei 2026, HUMAS MAPALA SIGINJAI.
Mahasiswa yang tergabung dan berkenan secara sukarela belajar membuat JMS dan JAKABA antara lain:Vina Idila Ramadhani, Nadia Vebrianti Evariani, Putri Anjani, Rasya Rahma Aulia, Nurdiana Nita Rmadhani, Andi Winda Sapitri, Indri Angelina Br Tambunan, Haikal Adi Putra, Muhammad Kifli Siregar, Muhammad Alfarizi, Diaz Rangga, Manuel Agustino O. Sungu dan Ade Risky Kurniawan, JMS adalah singkatan dari Jadam Microbial Solution, yaitu pupuk hayati cair berbasis jutaan mikroorganisme (bakteri, jamur menguntungkan, dan mikroba tanah lainnya). Andi Winda Sapitri, salah seorang peserta pelatihan pembuatan pupuk JMS dan JAKABA menegaskan “saya mendapat pengalaman baru tentang praktik pembuatan input-input organik seperti JMS dan JAKABA, dan pengalaman ini sangat berharga bagi saya, dan juga tentunya bagi teman-teman lain yang telah bergabung”,
Sementara itu Irvan, senior dari MAPAL SIGINJAI yang menjadi fasilitator pembuatan JMS dan JAKABA nenyatakan “para petani perlu menggunakan pupuk JMS (Jadam Microbial Solution) karena larutan mikroba ini bekerja secara alami untuk memperbaiki kesehatan tanah dan tanaman sekaligus menjadikan pertanian lebih berkelanjutan. JMS mengandung jutaan mikroorganisme lokal yang mampu mengurai bahan organik dengan efisien sehingga struktur tanah menjadi lebih gembur, aerasi membaik, dan kemampuan tanah menyimpan air serta unsur hara meningkat”
Pada prinsipnya, dengan tingginya populasi mikroba di dalam tanah, unsur‑unsur seperti nitrogen, fosfor, dan kalium dari bahan organik dan sisa‑sisa tanaman dapat dilepaskan secara perlahan sehingga tanaman menerima suplai hara yang lebih stabil dan alami. Selain itu, JMS juga membantu menekan patogen, mengurangi risiko penyakit tanaman seperti fusarium dan antraknosa, serta meningkatkan daya tahan tanaman terhadap hama karena keseimbangan mikrobioma tanah yang lebih sehat. Penggunaan JMS juga ramah lingkungan, murah, dan dapat dibuat sendiri dari bahan sederhana sehingga mampu menekan ketergantungan pada pupuk kimia sekaligus menurunkan biaya produksi pertanian, menjadikannya pilihan yang sangat tepat bagi petani maupun pengelola lahan yang ingin hasil tinggi namun tetap menjaga kesuburan dan kelestarian tanah jangka panjang.
Bahan-bahan untuk pembuatan JMS, sangat sederhana dan dapat bersumber dari lingkungan sekitar petani, seperti: Kentang rebus, Daun lapuk (serasah), Tanah lapisan atas (top soil), Garam (sumber mineral) dan Molase (larutan gula yang menjadi sumber makanan mikro organisme).
Selain pembuatan JMS, peserta juga mendapat pengalaman membuat pupuk JAKABA. Pupuk organik cair JAKABA ini, ditemukan oleh seorang petani bernama Abah Junaidi dari Situbondo. Bahan-bahan yang diperlukan untuk pembuatan JAKABA adalah: dedak, akar bambu, terasi, molase, EM4 dan garam, Konon kabarnya JAKABA (Jamur Keberuntungan Abadi) dilaporkan telah digunakan dan dikembangkan di luar negeri. Meskipun inovasi pupuk organik cair ini berasal dari Indonesia, popularitasnya telah meluas hingga dipraktikkan oleh petani maupun pegiat pertanian organik di mancanegara. (https://kominfo.jatimprov.go.id/berita/jakaba-wakili-situbondo-di-inotek-award-jatim-2022)

Foto: Dokumentasi JMS sudah berumur 48 jam dari awal pembuatan, HUMAS MAPALA SIGINJAI.

Foto: Dokumentasi JAKABA sudah berumur 5 hari dari awal pembuatan, HUMAS MAPALA SIGINJAI.

Foto: Dokumentasi JAKABA sudah berumur 20 hari dari awal pembuatan, HUMAS MAPALA SIGINJAI.
1 Komentar
Ade Risky Kurniawan · 24 Mei 2026 pada 9:12 pm
Inovasi seperti JMS dan Jakaba ini sangat bermanfaat untuk mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan Semoga semakin banyak petani yang beralih dari ketergantungan input kimia menuju pertanian yang lebih sehat, mandiri, dan berkelanjutan. Keren sekali MAPALA SIGINJAI UNJA dan beberapa mahasiswa dari fakultas pertanian sudah ikut berkontribusi dalam edukasi dan solusi nyata bagi masyarakat .