
EKSPEDISI BUNDA TANAH MELAYU: PERJALAN MAPALA SIGINJAI DI TANAH LINGGA.
Daik Lingga adalah nama sebuah kelurahan yang terletak di Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Secara sejarah dan budaya, penduduk yang menghuni wilayah ini adalah masyarakat Melayu Riau yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Lingga. Berdasarkan hasil dari kajian pustaka, awal mula nama daik dikarenakan suatu waktu datanglah para migran dari Mandir, Pangkalan Lama, dan migran dari Jambi ke Daik. Sebelum tiba di Daik, mereka singgah di sebuah pulau bernama Mepar (dulunya pulau Mepar dikenal sebagai pulau Lepa dan seiring waktu berubah menjadi Mepar).
Selanjutnya, setelah sampai mereka mulai menjelajahi dan mengelilingi sungai yang ada di sekeliling pulau Mepar, dalam penjelajahan itu mereka menancapkan tiang sebagai tanda bahwa mereka telah menjelajahi sungai yang bersangkutan. Ciri-ciri tersebutlah yang kemudian membuat sungai itu disebut sebagai sungai Tanda. Dari sungai ini, mereka meneruskan perjalanan dan tiba di sebuah lokasi dengan tanah datar, airnya jernih mengalir dari gunung, di tempat ini mereka sangat terkesan, menurut mereka lokasi ini sangat baik. Impresi ini kemudian menjadi nama untuk sungai dan wilayah sekitarnya, dengan kata lain, sungai dan wilayah tersebut dinamakan Baik. Namun seiring waktu, nama tersebut mengalami perubahan menjadi Daik, tidak jelas kapan kata Baik bertransformasi menjadi Daik, kemungkinan karena adanya kesalahan pendengaran dari seseorang yang membuat kata Baik menjadi Daik[1].
Hasil kompilasi data yang didapat mengungkap bahwasanya wilayah ini memiliki perjalanan historis yang amat panjang, dari era kerajaan hingga saat ini bentuk kabupaten saat ini. Mulanya, Kesultanan Lingga, yang kini merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Riau, terintegrasi dengan Kesultanan Johor. Namun, setelah penandatanganan Perjanjian Traktat London antara Belanda dan Inggris, wilayah kekuasaan Johor-Riau-Lingga-Pahang dibagi dua. Inggris mengambil alih Semenanjung Malaka hingga Singapura, sementara Belanda menguasai Kesultanan Riau-Lingga.
Perebutan takhta menjadi isu sentral di Kesultanan Riau-Lingga pasca-wafatnya Sultan Mahmud Syah III pada tahun 1812. Situasi ini diperparah oleh intervensi kekuatan kolonial Belanda dan Inggris. Lokasi strategis Lingga di Selat Malaka sebagai poros perdagangan vital, memicu ambisi ekspansi kedua belah pihak, yang pada akhirnya memicu konflik berkepanjangan dengan keturunan kesultanan. Ketidakstabilan politik internal, terutama akibat perselisihan regalía kekuasaan antara suku Bugis dan Melayu, kian memudahkan Inggris untuk memecah wilayah melalui Traktat London, sementara Belanda mengukuhkan dominasinya melalui Perjanjian Kapal Utrecht yang ditandatangani pada 10 November 1784. Berdasarkan narasi folklor dan fakta sejarah yang ada, kami mengidentifikasi ada potensi besar pada lanskap wilayah ini untuk dieksplorasi secara komprehensif. Keunikan wilayah ini terletak pada struktur sosio-kultural yang lestari dan heterogenitas topografi yang memukau. Oleh karena itu, tim kami merancang sebuah inisiatif ekspedisi yang dinamakan “Ekspedisi Bunda Tanah Melayu”. Misi ini difokuskan pada tiga kegiatan utama yaitu; pendakian gunung daik, pemanjatan dan pembuatan jalur pendakian ke puncak tebing gunung daik, serta kajian etno-antropologis melalui wawancara mendalam guna mendokumentasikan kekayaan budaya lokal.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh anggota tetap MAPALA SIGINJAI UNJA, pada tanggal 6-20 juli 2023 dalam rangka menjalani program Ekspedisi anggota tetap dari pengurusan periode 2022-2024. Dalam pelaksanaannya team membagi menjadi 3 tahapan yaitu pra ekspedisi, pelaksanaan ekspedisi, dan pasca ekspedisi.pada tahap pra ekspedisi team melakukan studi awal untuk pengumpulan informasi mengenai lokasi kegiatan serta melakukan latihan penunjang dan simulasi pra pelaksanaa untuk meminimalisir resiko pada saat pelaksanaan.


Ekspedisi ini diinisiasi dengan tujuan utama yaitu penjajakan MAPALA SIGINJAI UNJA ke pantai timur sumatera : pemasangan plang penanda awal di puncak Tebing Gunung Daik. Setelah pendakian yang menantang, tim kami berhasil mencapai puncak, mencatatkan diri sebagai kelompok kedua yang menjejakkan kaki di sana. Keberhasilan ini menjadi keberhasilan kedua setelah Mapala UI, yang meskipun tidak diketahui tahun pemanjatannya, tetapi meninggalkan dokumentasi fotografis sebagai bukti capaian mereka. Dengan rasa bangga, Saudara Arba’in menjadi individu pertama dari tim kami yang menginjakkan kaki di puncak, mengibarkan bendera organisasi, dan memasang plang pemberitahuan sebagai penanda resmi keberhasilan kami.
| Proses pemanjatan ssumber : MAPALA SIGINJAI UNJA 1 |
Pada ekspedisi kali ini, team melakukan pemanjatan yang tinggi tebingnya yaitu ±116 meter dengan panjang lintasan pemanjatan yaitu ±116. Untuk jenis batuan yang dipanjat pada tebing gunung daik sedikit rapuh dan berjenis metamorf/melihan hal ini disepakati oleh team dengan mencari rujukan dari berbagai sumber dan mendapatkan kata sepakat di batuan yang berjenis melihan/metamorf. Pemanjatan kali ini team menggunakan metode artificial climbing dengan sistem pemanjatan himalayan style. Team memanfaatkan kondisi cacat batuan dan akar pohon yang ada di sepanjang jalur pemanjatan sebagai pengaman, namun di jarak per 25-50 meter team menbuat stasiun pemberhentian atau biasa dikenal dengan pitch, di pitch ini team meninggalkan hunger sebanyak 2 hunger di setiap pitch nya, pengaman ini digunakan sebagai pengaman utama di stasiun pitch. Hal ini digunakan untuk mempermudah pemanjat dan memberi kesempatan pada team pemanjatan untuk melakukan istirahat saat berada di jalur pendakian. Kendala yang dihadapi team selama pemanjatan dan pendakian adalah cuaca serta track jalur yang lumayan terjal. Track yang ditempuh mulai dari menyebrangi sungai, hingga lembah. Untung saja semua team sudah siap untuk melakukan ekspedisi ini.
Ekspedisi pemanjatan tebing Gunung Daik telah berhasil dituntaskan, menaklukkan ketinggian vertikal sekitar ±116 meter. Tim dihadapkan pada tantangan signifikan berupa jenis batuan metamorf/melihan yang rapuh, sebuah karakteristik geologis yang telah diidentifikasi dan disepakati berdasarkan rujukan komprehensif dari berbagai sumber. Untuk mengatasi medan ini, tim mengimplementasikan metode artificial climbing dengan mengadopsi sistem Himalayan style. Strategi ini secara cerdik memanfaatkan anomali batuan dan struktur akar pohon sepanjang jalur sebagai titik pengaman vital.Guna mengoptimalkan keamanan dan memfasilitasi pemulihan fisik pendaki, stasiun pemberhentian, atau yang dikenal sebagai pitch, didirikan setiap interval ±25−50 meter. Pada setiap pitch, dua hanger ditinggalkan sebagai pengaman utama, tidak hanya mempermudah progres pemanjatan tetapi juga memberikan kesempatan krusial bagi tim untuk beristirahat di tengah jalur pendakian.
Meskipun perencanaan matang telah dilakukan, ekspedisi ini tidak terlepas dari kendala alamiah. Variabilitas cuaca dan kondisi lintasan yang ekstrem mulai dari penyeberangan sungai hingga melintasi lembah terjal menjadi ujian berat bagi ketahanan fisik dan mental seluruh anggota tim. Namun, berkat persiapan yang matang dan soliditas tim, seluruh rintangan tersebut berhasil diatasi, menandai penyelesaian sukses dari ekspedisi yang menantang ini.
Oleh : Rd. M. Rifal Fahlevi (SGJ 241 LIL)
0 Komentar