Badai terus saja menghantam ketika kaki-kaki kami mulai menginjak puncak leuser. Puncak dengan ketinggian 3114 mdpl. Tidak ada tempat berlindung karena disana tidak ditemukan jajaran pohon kecuali cantigi-cantigi dengan ukuran tidak lebih dari lutut orang dewasa. Awalnya tidak terlihat apa-apa selain balutan kabut tebal yang membatasi jarak pandang hingga 5 meter. Samar-samar terlihat sebuah pilar dengan tinggi sekitar 2 meter. Langkah kaki mengayun lebih cepat, disana tertulis jelas puncak leuser. Dengan bendera merah putih yang berkibar bebas. Serentak sujud syukur mengiringi keberhasilan misi kami untuk menggapai puncak ini. bukan hanya sekedar 9 hari perjalanan menuju puncak, atau dua set tenda yang hancur karna hantaman badai di bivak batu. Tapi mental, waktu, emosi hingga kejenuhan yang hampir menghentikan kami. Di puncak ini, siapa lagi yang akan mengelak kebesaran tuhan, kemegahan ciptaannya?..

Untuk sampai di sini kami menghabiskan 9 hari perjalanan dengan melewati banyak camp. Rute pendakian tim Ekspedisi Gunung Leuser sampai mencapai puncak Leuser :

  1. Dusun kedah (penginapan) – Pintu Rimba-Simpang Air

Homestay dusun Kedah adalah tempat pertama tim menginap. Disini tim mengurus semua perizinan termasuk Guide dan Simaksi. Homestay juga bersebelahan dengan kantor Resort TNGL Kedah. Sabtu, pukul 09.00 wib tim memulai perjalanan dari Homestay dengan ketinggian 1180 mdpl. Berjalan sekitar 15 menit dijalan aspal barulah tim menemukan jalan tanah yang biasa dilalui oleh warga ketika hendak ke kebun. Kondisi sedikit menanjak, Sepanjang jalan kita disuguhi pemandangan perkebunan di kaki gunung dan panorama dusun Kedah tampak atas. 2,5 jam perjalanan tim istirahat di sebuah pondok perkebunan tembakau. Disana terlihat bagaimana warga mengolah tembakau. Mulai dari panen, pengeringan, pengirisan, sampai penjemuran. Trek menuju pintu rimba sangat melelahkan, selain karena masih area perkebunan juga karena cuaca panas dan kondisi fisik yang masih tahap pengenalan medan. Setelah berjalan selama 4 jam diarea perkebunan tembakau tim akhirnya sampai di Pintu Rimba dengan ketinggian 1630 mdpl. Disini terdapat area camp dan sumber air sekitar 12 meter kebawah. Dari camp Pintu Rimba dimulai dengan jalur pendakian terjal. Tidak ada bonus jalan landai di jalur ini. kiri kanan masih dihiasi vegetasi pohon yang rapat. Berjalan sekitar 3 jam dari Pintu Rimba dengan kondisi jalan yang terus menanjak sampailah dicamp Simpang Air dengan ketinggian 2135 mdpl. Sedikit landai dengan kapasitas 3 tenda. Terdapat kubangan kecil sebagai sumber airyang berada tepat disamping area camp. Kondisi air yang kurang bersih mengharuskan tim untuk menyaringnya sebelum digunakan. Disinilah pada pukul 15.09 wib tim mendirikan tenda pertama kalinya. Pada malam hari dicelah jajaran pohon masih terlihat jelas lampu-lampu di dusun Kedah.

  1. Camp Bivak 1/ Jamur 1

Untuk mencapai camp ini tim masih harus berjalan dari camp Simpang Air dengan kondisi perjalanan tanjakan yang masih sama dengan hari pertama. Satu jam berjalan akan dtemukan sedikit jalan dengan vegetasi terbuka bekas kebakaran hutan. Butuh waktu sekitar 2 jam dari Simpang Air dengan kondisi jalur menanjak untuk sampai camp Bivak 1 atau guide menyebutnya Jamur 1. Camp Jamur 1 merupakan area yang lapang dan terbuka serta terdapat sumber air didekat area camp, hanya saja bila musim kemarau sumber air ini akan kering. Keadaan ini terjadi pada saat tim melewati jalur saat pulang. Tidak ada pemandangan yang terlalu menarik. Tim hanya beristirahat sebentar sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Lokasi camp ini berada pada ketinggian 2569 mdpl. Cukup lapang untuk mendirikan 4 atau 5 tenda dengan kapasitas 4 orang.

  1. Pemandian Burung

Pemandian Burung adalah lokasi persinggahan yang juga menyediakan sumber air. Tempat ini bisa dijadikan sebagai area camp dan hanya cukup untuk mendirikan satu tenda. Keadaan tertutup oleh vegetasi pohon berlumut. Terdapat satu sumber air berupa kubangan kecil sekitar 5 meter dari area camp. Berkisar satu jam setengah dari Jamur 1 atau Bivak 1 untuk mencapai lokasi ini. Jalur yang dilewati dari Bivak 1 ke Pemandian Burung sedikit landai hanya saja banyak pohon-pohon yang menghalangi pergerakan tim, terutama ceriel yang tinggi. Dengan kondisi demikian sesekali harus merangkak bahkan merayap untuk melewati rintangan pohon. Vegetasi lumut mulai menghiasi jalur menuju Pemandian Burung. Setelah makan siang dan mengisi botol air minum tim melanjutkan perjalanan menuju Puncak Angkasan. Trek menuju Puncak Angkasan kembali dihiasi jalan menanjak.

  1. Puncak Angkasan

13.44 wib, tim melanjutkan perjalanan dari Pemandian Burung menuju Puncak Angkasan. Jalur menuju Puncak Angkasan harus melewati punggungan. Di pertengahan jalur banyak ditemukan pohon-pohon tumbang bekas terbakar. Sekitar pukul 15.00 wib vegetasi mulai berubah dari area berlumut menjadi area terbuka. Tidak lagi ditemukan pohon-pohon besar. Tim melewati pungggungan bukit. Dari punggungan bukit bisa terlihat dengan jelas deretan perbukitan yang indah dan kabupaten Gayolues tampak atas. Didukung cuaca yang cerah memberikan sentuhan panorama indah diantara pegunungan Leuser. Tim sampai di Puncak Angkasan tepat pukul 16.00 wib. Di puncak Angkasan terdapat sebuah pilar kecil yang menjadi penanda puncak. Berada pada ketinggian 2920 mdpl. Meski di Puncak Angkasan ini berupa tanah lapang, tapi tidak semua pendaki mendirikan tenda tepat dipuncaknya. Alasannya karena sumber air jauh dari tempat ini, berkisar 100 meter dari pilar. Tim memutuskan untuk mendirikan camp di dekat sumber air yang juga menyediakan area camp. Berupa tanah lapang yang luas. Banyak pendaki yang menyerah dan bahkan sampai menangis ketika mendaki gunung leuser karena trek perjalan menuju Puncak Angkasan ini. Medan terjal yang harus ditempuh hingga 2 hari menjadi ujian tersendiri ketika mengingat untuk mencapai Leuser masih ada 6 hari lagi

Pada malam hari suhu di tempat ini sangat dingin. Selain karena berada diketinggian hampir 3000 mdpl, faktor lainnya tempat ini berupa tanah lapang yang berada dipuncak, tanpa ada pohon besar yang meneduhi. Sehingga hembusan angin malam pegunungan begitu terasa menembus kulit. Pagi hari, karena cuaca cerah tim bisa menikmati sunrise. Puncak Angkasan adalah arena camp yang pas bila ingin menikmati pemandangan dari atas. Sebelum melanjutkan perjalanan, tim menyempatkan menimbun konsumsi paket 14 yang disimpan untuk turun. Ini bertujuan untuk mengurangi beban yang akan dibawa.

  1. Camp Kulit Manis 1

Menuju camp Kulit Manis 1 untuk pertama kalinya melewati jalan penurunan. Tim turun kelembah sekitar 1 jam. Banyak sekali ditemukan sepanjang jalur tumbuhan Nephentes atau Kantung Semar dengan aneka warna (Merah, Hijau dan Hitam). Kemudian jalan kembali menanjak. Sepanjang jalur penanjakan banyak pohon-pohon lapuk yang berserakan. Setengah jam menanjak akhirnya sampai di camp Kulit Manis 1. Berupa tanah terbuka yang dikelilingi kayu-kayu lapuk. Dengan kapasitas camp 2 tenda. Disini terdapat sumber air berupa lubang galian dengan ukuran kecil yang terletak teapt di area camp. Dari camp ini juga bisa terlihat pemandangan pegunungan Leuser. Tim hanya berhenti sebentar mengisi botol air minum. Mengingat hari masih belum terlalu siang sehingga perjalanan dilanjutkan ke Kulit Manis 2 untuk makan siang. Camp ini berada pada ketinggian 2814 mdpl.

  1. Kulit Manis 2

Tim sampai di Kulit Manis 2 tepat pukul 12.01 wib. Disini terdapat 1 sumber air yang berada tepat di area camp. Jalur menuju kulit manis 2 sangat variatif. Dari kulit manis 1 berupa penurunan tajam diantara akar-akar pohon yang di balut lumut basah. Kemudian akan menanjak melewati tumbuhan perdu. Selanjutnya ditemukan sedikit tempat landai. Lalu akan kembali melewati penurunan dan penanjakan sampai akhirnya mencapai camp Kulit Manis 2 tepat pada pukul 12.01 wib. Cuaca cerah memberikan keuntungan buat tim. Di Kulit Manis 2 terdapat tempat duduk yang pas untuk menikmati hamparan pegunungan indah yang dibalut awan putih. Tim membuka paket makan siang di tempat ini, sambil mengisi kembali botol air minum yang sudah kosong. Camp ini berada pada ketinggian 2757 mdpl.

  1. Kulit Manis 3

Tim melanjutkan perjalanan dari Kulit Manis 2 tepat pukul 13.15 wib. Trek perjalanan menuju Kulit Manis 3 tidak jauh berbeda dengan Kulit Manis 2, harus melewati satu bukit lagi untuk mencapai camp ini. Hutan lumut masih mendominasi jalur, disepanjang jalur hanya ditemani oleh akar-akar pohon yang licin. Sebelum sampai dicamp Kulit Manis 3 kita akan melewati punggungan yang ditumbuhi tumbuhan perdu. Camp ini berupa tanah lapang yang berada dipuncak bukit, sedikit di tumbuhi rumput. Cukup untuk mendirikan 2 tenda dom denagan kapasitas 4 orang, Hanya saja jika cuaca angin tidak mendukung tempat ini kurang efektif, mengingat tempatnya terlalu terbuka dan berada dipuncak bukit. Sehingga memungkinkan angin bebas bersentuhan langsung dengan tenda. Selain itu di tempat ini minim air, hal ini dialami oleh tim saat istirahat untuk mengisi botol air minum. Camp ini berada pada ketinggian 2629 mdpl.

  1. Lintasan Badak

Sesuai dengan namanya, jalur menuju camp ini terdapat Lintasan Badak. Tapi karena maraknya pendaki yang datang, sehingga Badak tidak lagi melewati tempat ini karena sering mencium bau manusia. Camp Lintasan Badak berada di lembah makanya untuk mencapai camp ini tim harus melewati jalur penurunan dari Kulit Manis 3. Tepat pukul 16.13 wib tim sampai di camp Lintasan Badak. Tim menghabiskan waktu satu jam untuk sampai di camp ini. Lintasan badak menyediakan area camp yang luas dengan sumber air cukup. Pada malam hari, suhu tidak terlalu dingin karena dikelilingi pohon-pohon besar. Pagi harinya setelah streacing dan berdo’a tim menyempatkan untuk menanam paket konsumsi ke 13. Banyak tikus yang mendiami camp Lintasan Badak, terkadang saat tim makan malam mereka muncul untuk mengambil sisa-sisa makanan. Dengan kondisi demikian mengharuskan tim menimbun stok makanan ditempat dan posisi penimbunan yang tepat. Jika tidak makanan yang ditimbun habis dimakan tikus. Camp ini berada pada ketinggian 2310 mdpl.

  1. Pepanji

Pepanji adalah salah satu puncak bukit yang dilalui oleh tim. Karena lintasan badak berada di lembah, maka untuk mencapai camp Puncak Pepanji harus kembali melewati tanjakan terjal. Bergantungan dan terkadang harus merayap dicelah-celah akar pohon. Ini seperti arena panjat akar. Harus pandai memilih akar yang tidak lapuk, karena kebanyakan dibalut lumut basah yang menyulitkan untuk membedakannya. Banyak tumbuhan anggrek disepanjang jalan termasuk Jamur Merah yang jarang dijumpai ditempat lain. tim sampai di Pepanji tepat pukul 11.42 wib, waktu makan siang. Kondisi kemarau membuat sumber air di Pepanji kering sehingga menyulitkan tim untuk memasak. Terpaksa menggunakan sisa minuman di botol masing-masing. Area Camp di tempat ini tidak terlalu luas. Berupa tanah yang sedikit miring tapi masih bisa menegakkan 2 tanda Doom. Camp ini berada pada ketinggian 2420 mdpl.

  1. Blang Beke

Setelah makan siang, pukul 12.53 tim melanjutkan perjalanan kali ini harus turun dari puncak Pepanji melewati vegetasi pohon-pohon yang rapat. Selanjutnya kembali menaiki bukit, tidak jarang harus merunduk untuk melewati pohon yang melintang di jalur. Berjalan sekitar 2 jam barulah akhirnya tim bisa menikmati alam terbuka di Singga Mata. Sebuah tempat peristirahatan yang berada di punggungan bukit. Area kecil yang biasa digunakan untuk istirahat melepas lelah setelah melewati jalan terjal. Tidak bisa digunakan untuk mendirikan tenda dan tidak ada sumber air di daerah ini. Di Singga Mata kita bisa menikmati air terjun dari jauh. Ada dua air terjun yang terlihat ketika duduk santai di Singga Mata. Air terjun itu berasal dari aliran air sungai alas yang akan dijumpai besok. Puas memanjakan mata dengan keindahan yang terpampang didepan, tim kembali melanjutkan perjalanan melewati punggungan. Tidak lama berjalan sekitar 10 menit ditemukan kotoran harimau yang masih baru. Menurut perkiraan itu kotoran tadi malam.

Perjalanan semakin ekstrim. Kini melewati penurunan curam hampir kemiringan 80 drajat dengan medan dipenuhi akar-akar pohon yang licin dan berlumut. Tak jarang tim terjatuh karena kaki terpeleset kedalam celah akar. Anggrek-anggrek cantik banyak dijumpai disepanjang jalur. Kantung semar bukan lagi hal yang langka untuk dicari ditempat ini. Medan semakin sulit tapi stok di botol air minum sudah habis. Jika memulai perjalanan dari lintasan badak menuju Padang Rumput dianjurkan untuk menghemat air. Dikarenakan jika Puncak Pepanji kekeringan maka tidak ada lagi sumber air yang ditemukan di jalur. Kondisi tenggorokan yang kering mengharuskan tim meminum air dari Kantung Semar. Setelah melewati penurunan panjang dan terjal akhirnya ditemukan juga jalan yang sedikit landai. 2,5 jam berjalan dari Singga Mata terdapat camp darurat. Camp yang digunakan jika tidak mampu menembus ke camp Blang Beke. Disini air melimpa. Menyempatkan mengisi botol, tim kembali berjalan. Menanjak sekitar 45 menit barulah rasa puas menyelimuti tim, hamparan Padang Rumput yang luas menyambut kedatangan kami. Di Padang Rumput banyak dijumpai bebatuan. Pemandangan yang indah begitu mempesona mata. Pohon-pohon besar tidak dijumpai disini. Hanya Cantigi dan Ilalang yang tidak melebihi tinggi lutut. Sebelum masuk area camp terdapat tumpukan-tumpukan batu membentuk seperti gapura kecil. Dari informasi, tumpukan batuan-batuan itu biasanya disusun oleh para pendaki. Setiap kali ada pendaki yang naik maka susunan batu akan bertambah satu keping. Inilah camp Blang Beke, yang berarti Padang Rumput. Sumber air ditempat ini melimpah berupa kubangan-kubangan di beberapa titik. Tim menggunakan kubangan yang berada sekitar 50 meter dari tempat mendirikan tenda. Area camp yang pas untuk menikmati hamparan Padang Rumput diatas ketinggian 2255 mdpl, sambil duduk manis melihat jajaran bukit dan menunjuk bukit yang mana lagi akan ditempuh esok harinya.

  1. Sungai Alas

Selain Blang Beke yang punya pesona indah, Sungai Alas juga punya daya tariknya tersendiri. Berjalan dari Padang Rumput sekitar satu jam, melewati padang safana dan 2 anak sungai, akhirnya bisa terlihat bagaimana indahnya sungai yang jernih mengalir diantara bebatuan. Gemercik aliran air memecahkan sunyinya alam belantara pegunungan Leuser. Setelah berjalan selama 4 hari mengeluarkan banyak keringat, daya tarik sungai menggoda kami untuk mandi. Air di Sungai Alas luar biasa dingin, awalnya tim berencana untuk mandi tapi dengan kondisi air yang dinginnya luar biasa akhirnya hanya menyeburkan diri sekali kemudian naik. Kulit kepala seperti dipijat-pijat. Banyak mitos yang berkembang perihal Sungai Alas, mulai dari larangan untuk mandi Hanya dengan celana dalam, menyuci pakaian disungai, sampai pada larangan berteriak. Lebarnya Sungai ini bisa diperkirakan sekitar 7 meter. Jika musim hujan, Aliran air ditempat ini lumayan deras dan tak jarang orang menggunakan Webing untuk menyeberang.

Camp Sungai Alas lumayan luas bisa menampung 3 sampai 4 tenda. Untuk mencapai camp, harus menyebrangi Sungai Alas kemudian berjalan sekitar 30 meter ke atas. Tim sampai tepat pukul 10.46 wib membuka bekal makan siang ditempat ini, menyeduh air yang diambil dari Sungai Alas. Tepat pukul 12.04 wib tim menyempatkan menanam paket konsumsi yang ke 12 sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Kolam Badak. Perjalanan menuju Kolam Badak dari Sungai Alas masih diwarnai padang safana, dan sesekali melewati penanjakan. Disepanjang jalur dihiasi tumbuhan perdu, mulai jarang ditemukan pohon-pohon besar. Camp ini berada pada ketinggian 2292 mdpl.

  1. Kolam Badak

Sesuai dengan namanya, terdapat sebuah Kolam Badak yang sekarang digunakan sebagai sumber air, mengingat badaknya tidak pernah dijumpai lagi ditempat ini. Tim sampai di camp ini pukul 15.20 wib. Area camp di tempat ini lumayan luas untuk mendirikan tenda. Tim kehujanan pertama kalinya saat perjalanan dari camp Sungai Alas menuju camp Kolam Badak. Suasana kabut membatasi pandangan kami yang seharusnya tempat ini lumayan indah untuk menikmati sunset. Pagi harinya sebelum berangkat tim menyempatkan untuk menanam konsumsi paket 11 di dekat area camp. Camp ini berada pada ketinggian 2730 mdpl.

  1. Bivak III

Kabut masih menemani perjalanan menuju camp Bivak III, start pertama tim harus menanjak. Selanjutnya melewati punggungan. Trek dipunggungan sebenarnya tidak terlalu terjal, tapi kondisi kabut dan jurang disebelah kanan jalan membuat jalur ini berbahaya. Jarak pandang sekitar 50 meter. Ditambah badai angin yang justru semakin kencang. Tidak ada pohon besar di sepanjang punggungan bukit, hanya tanaman perdu dan beberapa kelompok ilalang. Tim sampai di Bivak III tepat pukul 12.35 wib. Perjalanan memakan waktu sekitar 2,5 jam dari Kolam Badak ke Bivak 3. Sebelum sampai di Bivak III tim sempat melewati sebuah camp darurat bertuliskan camp Pandur _ Pantang Mundur. Di Bivak III lumayan luas untuk mendirikan tenda. Sumber airnya pun banyak. Tim hanya istirahat makan siang ditempat ini, tapi sempat mendirikan satu tenda untuk memasak dan menghangatkan badan mengingat cuaca sangat ekstrim. Tim menggigil kedinginan. Camp ini berupa tanah lapang yang hanya ditumbuhi rumput-rumput sejenis ilalang. Camp ini berada pada ketinggian 2976 mdpl.

  1. Camp putri

Tim start ke camp Putri pukul 13.30 wib. Hujan semakin deras tapi kabut belum juga hilang, badai masih terus menghantui perjalanan tim. Tim tidak pernah istirahat berlama-lama karena bisa saja membuat Hipotermia. Perjalanan menuju camp Putri kembali melewati hutan lumut yang licin dan basah. Menuruni dan mandaki jalan terjal diantara akar-akar pohon yang dibalut lumut. Tidak ada pemandangan yang bisa dinikmati karena kiri, kanan, depan, belakang hanyalah tembok putih yang diselimuti kabut. Akhirnya tepat pukul 15.32 tim sampai di Camp Putri. Dengan kondisi menggigil kedinginan tim mendirikan tenda. Ditemukan Lintah Merah (fauna yang jarang dijumpai ditempat lain), ukurannya sepanjang jengkal tangan. Camp ini sangat lapang untuk mendirikan tenda. Hanya saja tidak ada pohon besar yang membatasi pergerakan angin sehingga dengan mudah menghantam tenda. Meminimalisir pergerakan diluar, tim menampung air di depan tenda masing-masing.

Pagi hari tim menikmati Sunrise, cuaca perlahan mulai membaik meski suhu dingin masih menyerang. Dari camp putri, puncak Loser terlihat dengan jelas berupa batuan cadas dengan kontur yang indah. Tapi perjalanan masih panjang untuk mencapai puncaknya meski terlihat sangat jelas dan seolah begitu dekat. Camp ini berada pada ketinggian 2934 mdpl.

  1. Bivak Kaleng

Trek dari camp putri ke Bivak Kaleng harus melewati punggungan perbukitan. Jurang dan medan yang terjal menjadi tantangan. Jika cuaca cerah maka dari kejauhan akan tampak air terjun yang mengalir di kaki gunung Loser. Tim sampai di Bivak Kaleng pukul 12.25 dengan kondisi kedinginan. menyempatkan membuat api unggun untuk menghangatkan badan. Disini tim istirahat makan siang. Area camp di tempat ini bisa untuk menampung 3 tenda, dan terdapat sumber air didekatnya. Sepanjang jalur banyak dijumpai Kantung Semar, selain itu burung-burung dengan warna yang cantik juga banyak beterbangan. Camp ini berada pada ketinggian 2927 mdpl.

  1. Bivak batu

Sesuai dengan namanya tempat ini dipenuhi dengan batu-batu yang berserakan. Berupa hamparan daerah lapang yang cadas. Dilihat dari tempatnya sebenarnya camp ini sangat indah jika cuaca mendukung. Hanya saja saat tim sampai disini kondisi sangat berkabut, badai tak henti-hentinya berhembus jarak pandang bahkan sempat mencapai kurang dari 20 meter. Tim sempat terpisah ditempat ini. perjalanan menuju bivak batu harus menuruni dan mendaki akar-akar pohon yang lapuk terselubung lumut. Ini menguras tenaga karena harus melewati beberapa bukit.

Tim mendirikan tenda bukan ditempat biasa para pendaki ngecamp. Cuaca tidak mendukung ditanah lapang. Akhirnya mencari perlindungan dibalik tumpukan batu. Angin yang sangat kencang menyulitkan tim untuk mendirikan tenda. Ada tiga tenda yang didirikan seperti biasanya. Tapi karena badai justru semakin kencang pada malam hari, tenda pun rubuh satu persatu diterjang badai. Prem tenda pecah menyisakan satu tenda yang masih berdiri. Ini menyebabkan tim tidak tidur sepanjang malam, sembari berdoa semoga tenda yang ditinggalkan dalam keadaan rubuh tidak terbang terbawah angin. Pada pagi hari tidak ada lagi sarapan tim langsung packing dan berjalan mencari tempat yang aman dari badai. Disepanjang jalan sesekali badan terhampas karena badai yang sangat kencang. Terdapat sumber air ditempat ini yang berada di camp paling atas. Camp ini berada pada ketinggian 2947 mdpl.

  1. Kelueng keruet

Klueng Keruet artinya turun naik begitulah guede menjelaskan tentang camp ini. Untuk mencapai camp Kelueng Keruet tim masih mendaki dan menuruni beberapa punggungan bukit, tepat pukul 11.47 wib tim sampai diarea camp Klueng Keruet. Aliran air sungai sangat jelas dari camp ini. turun sekitar 10 menit akan dijumpai aliran air yang sangat jernih, sungai ini lebih kecil dari sungai alas dinamakan sungai krueng kluet 1. Tim hanya istirahat sebentar. Para pendaki yang mendirikan tenda ditempat ini biasanya menggunakan air untuk memasak dari sungai Krueng Kluet 1. Pada saat pulang tim mendirikan tenda ditempat ini, tim sempat mendirikan 2 tenda saat pulang.

  1. Simpang Mahmud

Untuk mencapai Simpang Mahmud medan sangat sulit. Menuruni sungai kerueng kelut 1 diantara lumut-lumut basah dan licin yang menempel diakar. Tak jarang harus merunduk dan merangkak. Kemudian akan mendaki dan kembali melewati penurunan menuju sungai kerueng keluet 2. Medan masih sama. Hanya saja selanjutnya terus mendaki hingga mencapai Simpang Mahmud. Tim memakan waktu 3 jam dari camp Kerueng Kleut 1 ke Simpang Mahmud. Di Simpang Mahmud cukup untuk mendirikan banyak tenda karena tempatnya yang lapang. Dari camp ini Puncak Tanpa Nama sangat jelas terlihat. Kemudian Loser juga semakin jelas terlihat. Begitu megah dengan bentuk contur yang mempesona.

Berdasarkan informasi, di camp Simpang Mahmud dulu ditemukan 2 tengkorak jenazah. Jenazah dua orang napi ganja yang melarikan diri di pegunungan Leuser. Karena tidak membawa perbekalan akhirnya meninggal kelaparan dan kedinginan di Simpang Mahmud ini. Kami mendirikan camp disini meski masih jam 13.58 wib. Kejadian badai tadi malam membuat tim memutuskan untuk menghentikan perjalanan dan merefresh fisik. Camp ini sangat pas untuk menikmati Loser dan Puncak Tanpa Nama dari dekat, selain itu juga terdapat sumber air. Camp ini berada pada ketinggian 3202 mdpl.

  1. Lapangan Bola

Seperti namanya Lapangan Bola, maka tempat ini berupa hamparan luas menyerupai Lapangan Bola, tempatnya sangat luas dengan vegetasi berupa rumput Ilalang, tekstur tanah yang berair sedikit menyulitkan pergerakan. Meski tempat ini berair tapi tersedia area camp yang lapang dan kering untuk mendirikan tenda. Pemandangannya sangat indah, dan dengan jelas bisa terlihat gunung Loser yang menjulang tinggi didepan mata. Tim hanya bersitirahat sebentar sambil mendokumentasikan pemandangan sekitar. Sumber air ditempat ini sangat melimpah. Ditambah perjalanan tim beberapa hari ini diwarnai dengan hujan. Untungnya hari ini sedikit cerah meski sesekali kabut turun kemudian menghilang. Sulit untuk memprediksi cuaca di pegunungan Leuser. Apalagi cuaca dari Sungai Alas ke atas. Sangat jauh berbeda dengan Sungai Alas ke Pintu Rimba. perjalanan menuju Lapangan Bola dari Simpang Mahmud lebih banyak melewati penurunan, bahkan bisa dibilang hampir semuanya penurunan, hanya sesekali pendakian kecil. Vegetasi lumut masih sering dijumpai tapi hanya sesekali saja. Lebih banyak area terbuka. Camp ini berada pada ketinggian 3126 mdpl.

  1. Puncak Loser, 3404 mdpl

Hari ke 9, tepat jam 13.00 wib akhirnya tim sampai di puncak Loser. Perjalanan panjang yang dilalui selama berhari-hari akhirnya sampai juga. Di puncak Loser terdapat sebuah pilar dengan tinggi sekitar 2 meter. Sebelum sampai di puncak Loser tim melewati jalan-jalan dengan vegetasi terbuka. Naik turun bukit. Sepanjang jalan banyak ditumbuhi Kantung Semar. Tidak lagi dijumpai area berlumut dari Lapangan Bola kepuncak Loser. Hanya hamparan bebatuan dan tumbuhan perdu. sebelum mencapai puncak Loser tim istirahat makan siang di bebatuan, mengingat hari sudah menunjukkan pukul 11.03 wib. Cuaca semakin tidak menentu baru saja cerah tiba-tiba kabut kembali datang.

Summit Attack

Pukul 12.09 tim melanjutkan perjalanan, kali ini melewati hamparan bebatuan. tidak ada lagi dinding pohon besar yang membatasi. Perjalanan semakin menantang, selain kabut dan angin kencang, kini hujanpun mulai semakin deras. Tidak ada tempat bernaung untuk sekedar menghidupkan api atau beristirahat. Hanya bentangan tanah gersang dan bebatuan yang luas. Tim tetap melanjutkan perjalanan. Loser semakin dekat. Jalur yang dilewati seolah sudah berada dipuncak. Tapi pilar samar-samarpun tidak terlihat. Akhirnya pukul 13.00 wib tepat hari minggu tanggal 15 juni 2014 tim sampai dipuncak Loser dengan ditandai pilar Treangulasi yang tinggi. Cuaca masih kabut saat pertama kali memeluknya, namun hujan mulai reda. Tiba-tiba saja cuaca cerah, pemandangan di depan kami begitu menakjubkan. Bentangan pegunungan yang megah, lautan hijau dan biru mewarnai pegunungan Leuser. pantai barat Aceh terlihat begitu jelas. Dan yang paling menakjubkan di depan mata dengan sangat jelas gunung Leuser berdiri tegak dengan sombongnya, keindahan kontur dan warna bebatuan yang berselimut rumput dan pohon hijau menjadi nilai seni yang tak seorangpun bisa menirukannya. Tidak ingin melewati moment yang dinanti selama 9 hari perjalanan akhirnya tim memutuskan untuk mendirikan tenda di tempat ini. terdapat sumber air yang bisa digunakan untuk memasak sekitar 10 meter dari tenda. Disini terdapat cerukan yang bisa menampung sekitar dua tenda. Cerukan ini tepat di dekat pilar. Area camp itulah yang tim gunakan. Kondisi cuaca yang tidak menentu dan angin kencang yang terkadang tiba-tiba saja datang memutuskan untuk tidak memilih area tanah lapang diatas sebagai tempat camp. Sore hari Sunset yang indah kembali tersaji didepan mata. Luar biasa.

  1. Puncak leuser

Inilah titik akhir pencapaian tim Ekspedisi Leuser Mapala SIGINJAI Unja. Start dari puncak Loser pukul 09.05 wib dengan tidak membawa beban. Tim turun melewati punggungan. Jalan terjal bebatuan cukup membuat ciut nyali. Turun dari akar-akar pohon yang berlumut, kemudian menanjak dan sesekali datar melewati punggungan. disebelah kiri jalan begitu jelas terlihat jurang siap menyambut. Dijalan punggungan ini tim harus sangat berhati-hati karena tanah yang diinjak bisa saja longsor. Setelah berjalan sekitar 1,5 jam tim sampai di Danau Leuser. Danau yang begitu tenang, terlihat begitu mencolok. Tim disarankan mengucapkan salam sebelum ke area Danau. Setelah puas menikmati Danau tim kembali menanjak keatas menuju puncak Leuser. Tepat pukul 10.27 wib tim sampai di puncak. Inilah misi terakhir dalam perjalanan ini. mencapai puncak leuser. Tidak ada pilar yang menandai puncak Leuser. Tim menggunakan GPS untuk mengukur puncak yang paling tinggi. Cuaca sempat berkabut saat pertama kali sampai. Tapi seperti hari kemarin cuaca kembali membaik, panorama dan moment yang indah inipun diabadikan oleh tim. Daerah ini terdapat area yang sebenarnya bisa digunakan sebagai tempat camp yang tidak jauh dari Danau Leuser.

 
 
Oleh: Wildan Supriansyah (SGJ 200 PTS)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!